Sukses Ala Jack Welch

Pusta Hery Kurnia - Jack Welch

Legenda dari perusahaan General Electric (GE), Jack Welch adalah contoh nyata yang mampu menginspirasi siapa saja. Teladannya di GE yang mampu menggerakkan perusahaan tersebut mencapai puncaknya menjadi legenda hingga kini. Ia memang bukanlah pendiri perusahaan tersebut. Tapi, ia adalah pendobrak sistem kerja dan manajemen di GE, sehingga mampu mengubah perusahaan tersebut dari perusahaan yang “hanya” bernilai puluhan miliar dolar, menjadi ratusan miliar dolar di masa pensiunnya.

Di masa awal ia menjadi CEO (1981), Welch pernah dijuluki “bom neutron”, karena melakukan rasionalisasi pegawai yang sangat besar. Dalam bukunya Jack: Straight From The Gut, ia berkisah bagaimana dirinya mengubah ratusan ribu karyawan untuk mengefisiensikan perusahaan. Sebuah kebijakan yang kontroversial pada masa tersebut. Bahkan, setiap tahun, ia selalu memberhentikan 10% manajer yang memiliki prestasi paling bawah. Tapi, sebaliknya, ia juga memberikan imbalan dan bonus saham bagi 20% manajer teratasnya.

Apa saja kiat sukses yang diterapkannya hingga mampu mengubah GE menjadi demikian luar biasa? Berikut beberapa cuplikan kata-kata motivasi yang menggambarkan inspirasi dan kerja kerasnya…

• “Kendalikan nasibmu sendiri sebelum orang lain yang mengambil alih.”

Welch mengajarkan bagaimana seseorang harus menjadi dirinya sendiri dengan mengeluarkan segenap potensi. Dengan cara itu, orang akan memiliki kekuatan dan bisa mengubah lingkungan sekitarnya. Inilah salah satu bentuk motivasi Welch sehingga setiap orang didorong untuk memberikan yang terbaik.

• “Jangan mengatur, tapi pimpinlah orang untuk berubah sebelum perubahan terjadi.”

Menjadi pimpinan bukanlah sekadar bertugas untuk mengatur seseorang. Tapi, mengarahkan orang tersebut untuk mampu mengeluarkan potensinya sehingga bisa menghadapi berbagai tantangan dan halangan. Dengan metode kepemimpinan tanpa “menggurui”, Welch berhasil mengubah GE menjadi organisasi dengan orang-orang terbaik yang selalu siap bersaing di mana pun dan kapan pun.

• “Hadapi kenyataan sebagaimana adanya, jangan berpikir seharusnya begini atau seperti itu.”

Welch juga mengajarkan bagaimana seseorang untuk tidak mencari kambing hitam persoalan. Hadapilah apa pun risiko yang terjadi, dan bergeraklah dengan evaluasi yang menyeluruh. Dengan begitu, masalah yang dihadapi dari kenyataan yang terjadi, justru akan jadi pembelajaran ke depan.

• “Kemampuan organisasi untuk belajar dan mengambil langkah untuk mengubahnya jadi tindakan adalah bekal utama dalam menghadapi persaingan yang sangat sengit.”

Dalam era persaingan yang sangat sengit, kemampuan perusahaan untuk belajar dan beradaptasi terhadap perubahan menjadi faktor sukses GE di bawah kepemimpinan Welch. Karena itu, ia selalu menekankan pentingnya semangat belajar dan mengubah ilmu yang didapat sebagai tindakan untuk membawa organisasi bergerak lebih cepat dan lebih baik.

• “Saya belajar bahwa kesalahan dapat menjadi guru yang sangat baik, seperti juga kesuksesan.”

Ini adalah nasihat klise yang juga diungkap oleh banyak orang. Namun, di tangan Welch, nasihat ini ibarat “jimat” yang mampu mendorong setiap orang agar tak takut berbuat salah demi memberikan yang terbaik pada perusahaan. Dengan pengertian tentang hal ini, GE mampu berinovasi dan berkembang ke berbagai bidang.

• “Jika kamu tidak memiliki keunggulan kompetitif, maka jangan masuk ke arena kompetisi.”

Welch menekankan pentingnya melihat kemampuan diri sendiri dan bagaimana meningkatkan kepercayaan diri dengan mengevaluasi ke dalam. Dengan cara ini, ia bisa mendorong karyawannya untuk memiliki nilai lebih pada masing-masing divisi sehingga mampu bergerak lebih maksimal menghadapi berbagai tantangan yang ada.

• “Jika kamu mampu memilih orang tepat yang mampu mengembangkan sendiri ‘sayapnya’ dan memberikan kompensasi yang tepat, maka biasanya, kamu tak perlu mengaturnya.”

Dengan kebijakannya memecat 10% manajer terbawah dan memberikan bonus pada 20% manajer teratas, Welch membuka arena persaingan di dalam GE. Dan, justru itulah yang kemudian mampu mendorong orang untuk saling berlomba memberikan segenap potensinya untuk memajukan perusahaan. Dan, bisa dikatakan, Welch tak perlu lagi mengatur apa yang harus dilakukan para manajernya. Sebab, para manajer tersebut sudah tahu bagaimana menempatkan diri sesuai bidang masing-masing untuk menjadi yang terbaik di GE.

• “Saya adalah seorang pencari bakat. Layaknya tukang kebun, saya memberikan air dan merawat lebih dari 750 orang terbaik kita. Tapi, kadang-kadang, saya harus berupaya menumbuhkan bibit-bibit baru juga…
Meski dikenal tegas dan keras, Welch tak menutup kemungkinan bahwa ia juga harus tetap “mendampingi” benih-benih junior di GE. Sebab, ia tahu persis, semua orang pasti memiliki potensi dan kapabilitas masing-masing. Karena itu, ia selalu melihat dari berbagai segi untuk menjadikan orang-orang terbaik bisa berkembang di perusahaannya.

• “Tim yang memiliki pemain terbaiklah yang akan menang!”

Sudah pasti, apa yang dilakukan Welch bertujuan untuk membentuk budaya kerja yang dinaungi oleh orang-orang terbaik di bidangnya. Karena itu, ia selalu berusaha untuk membentuk tim-tim unggulan untuk menjadi pimpinan di berbagai divisi yang ada di GE. Dengan cara itulah, ia mampu membangun GE makin besar di masanya.

• “Meningkatkan kepercayaan diri orang lain adalah tugas terbaik yang bisa saya lakukan. Sebab, dengan begitu, mereka akan bisa bertindak dengan sendirinya.”

Jack Welch barangkali terlahir sebagai pebisnis sekaligus motivator dan inspirator. Dengan sentuhannya, ia mampu mengubah GE menjadi sangat besar di eranya. Tapi, ia tetap rendah hati dengan mengatakan bahwa ia hanyalah mencoba membiarkan talenta-talenta di bawahnya untuk berkembang dengan kemampuan masing-masing. Kata-katanya secara alami mampu membuat orang selalu terdorong rasa percaya dirinya untuk bisa memberikan yang terbaik dari apa yang mereka bisa dan mampu kerjakan.

Sumber: www.andriewongso.com

Leave a Comment