Success is How High You Bounce when You Hit Bottom

Bagi Anda penggemar klub sepakbola asal Inggris, Chelsea, saya pastikan pagi ini Anda minimal sedang kecewa. Ya, tim kesayangan Anda gagal melaju ke babak Liga Champion berikutnya. Paris Saint Germain (PSG) berhasil menyingkirkan Chelsea (unggul gol tandang) di kandang sendiri. Saya sendiri penggemar Chelsea, dan saya berharap hasil yang berbeda. Di tengah rasa sesak di dada, saya temukan satu pelajaran yang sangat berharga dari pertandingan ini.

Pusta Hery Kurnia - Thiago Silva2

Namanya pertandingan, selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Di balik setiap kemenangan, selalu ada orang-orang yang menunjukkan karakter juara. Dan hari ini saya melihat itu di diri Thago Silva, pemain bertahan sekaligus kapten PSG. Di menit ke 95, Silva melakukan hands ball yang berujung pada tendangan penalty dan gol untuk Chelsea. Gara-gara gol ini, kedudukan menjadi 2-1 untuk keunggulan Chelsea, dan kemungkinan PSG tidak lolos. Saya coba bayangkan berada di posisi Silva, pasti tekanan yang muncul sangat besar. Kemungkinan saya mulai menyalahkan diri, tidak fokus, dan performa di lapangan menurun, apalagi waktu pertandingan sudah hampir habis. Tetapi Silva menunjukkan hal yang sebaliknya. Silva malah terlihat semakin termotivasi, semakin bersemangat untuk membayar kesalahannya. Di menit 113, tandukannya berhasil diselamatkan kiper Chelsea. Dia tidak menyerah, dia coba lagi dan di menit 114, Silva berhasil mencetak gol kemenangan.

Seberapa sering kita melakukan kesalahan, dan terbenam dalam penyesalan? Seberapa sering kita merasa saya banyak lakukan kesalahan, saya pasti akan gagal? Saya tidak selancar rekan-rekan yang lain hari ini, saya tidak layak untuk berhasil? Seberapa sering juga karena rasa bersalah dan kegagalan kita mulai kehilangan motivasi, semangat, dan akhirnya memilih untuk menyerah?

Kesalahan adalah hal yang normal. Kegagalan adalah sesuatu yang biasa terjadi. Michael Jordan, salah satu pemain basket paling sukses di dunia, melakukan lebih dari 9000 kesalahan lemparan bola sepanjang karirnya, tetapi tetap saja dia disebut pebasket sukses. Kuncinya bukan di bagaimana kita tidak pernah salah. Tetapi bagaimana kita bisa bangkit setiap kali kita gagal. Bagaimana kita bisa tetap berdiri tegak dan fokus pada tantangan di depan setelah kita melakukan kesalahan. Bagaimana kita bisa tetap yakin dan optimis “saya akan berhasil”, meskipun posisi kita sulit.

Jenderal George S Patton, jenderal perang tentara Amerika di Perang Dunia II mengatakan “success is how high you bounce when you hit bottom”. Seberapa tinggi Anda bisa bangkit dan melejit setelah jatuh dan gagal. Sahabat, seberapa pun kesalahan, kegagalan yang saat ini Anda alami. Putuskan untuk segera bangkit dan berjuang kembali! Anda pasti bisa raih kemenangan dan kesuksesan.

Oleh: Pusta Hery Kurnia

3 thoughts on “Success is How High You Bounce when You Hit Bottom”

  1. Salam kenal. Turut bersimpati karena klub kesayangan anda mengalami kekalahan. Masih beruntung anda, klub kesayangan saya MU malah sama sekali gak berlaga di champion. Tapi ya berlaga atau tidak, manfaat konkrit tidak didapat karena kita cuma sebatas pendukung. Ya gak.

    Tapi benar apa yang anda katakan. Jika anda jatuh ya harus bangun. Jatuh 7 kali bangun 8 kali. Barangkali juga apa yang di contohkan oleh Thiago Silva juga menggambarkan spirit pantang menyerah. Sebagai seorang pemenang, ia memiliki sikap yang dapat disebut sebagai Last Minute Stamina.

    Blog anda bagus sekali dan mohon ijin saya berkunjung dan follow blog anda.

    Mohon berkenan juga untuk mampir membaca sekilas tentang Last Minute Stamina.

    https://fakhrurrojihasan.wordpress.com/2014/04/29/the-last-minute-stamina-yang-membedakan/

    Salam
    Perspektif
    Fakhrurroji Hasan

    • Luar biasa! Salam kenal juga.
      Terimakasih sudah kunjungi blog ini. Semoga dapat menjadi salah satu sumber inspirasi.
      Saya sudah kunjungi blog pak Fakhrurroji, isinya luar biasa. Resourceful sekali pak. Senang bisa saling share.

Leave a Comment