Leadership is Not About Position!

Judul di atas mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda. Di beberapa buku, seminar mengenai kepemimpinan, banyak sekali dibahas tentang hal ini. Akan tetapi realita yang ada masih banyak pemimpin yang menganggap bahwa posisi adalah segalanya; masih menganggap bahwa dengan posisi seorang pemimpin bebas melakukan apa saja karena merasa memiliki kuasa atas orang lain. Saya terkadang tak bisa berkata-kata ketika mendengar berita bahwa seorang pejabat atau kepala instansi atau orang yang merasa dirinya ‘penting’ melakukan tindak kekerasan atau bertindak seenaknya kepada orang lain dengan mengatasnamakan pangkat dan jabatan.

leadership is not position

Mungkin masih lekat di ingatan kita dimana seorang petugas bandara yang mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari salah seorang penumpang yang lagi lagi merasa memiliki posisi yang penting dan merasa bebas mau melakukan apa saja. Kita mungkin kerap mendengar ciri-ciri pemimpin yang mengatakan “Anda tidak tahu siapa saya?”, “Saya bisa melakukan apapun dengan pangkat saya ini, kamu tahu?” Yang mau diperlihatkan dari perkataan tersebut bukan lagi kompetensi sebagai pemimpin melainkan lebih cenderung kepada kekuasaan dan tingginya pangkat yang pemimpin ini mungkin miliki.

Lain lagi ceritanya dalam konteks perusahaan, terkadang peserta saya mengatakan, “Harusnya atasan saya juga di-training tentang leadership pak, karena yang bermasalah sepertinya dia bukan kami.” Komentar ini menurut saya cukup berani, dan menimbulkan keingintahuan saya lebih dalam. Maka saya menanyakan, “Memang ada apa dengan pemimpin Anda..?” Peserta ini menceritakan bagaimana pemimpin di perusahaannya begitu angkuh, hanya semata-mata berpangkat seorang direktur. Penyataan yang tidak perlu keluar dari mulut seorang pemimpin terkadang terlontar begitu saja, “Saya punya kuasa untuk kehidupan karier kamu di perusahaan ini!” Jika pemimpin tersebut hanya staf, apakah mungkin pernyataan tersebut keluar? Rasanya tidak mungkin, karena yang ada di benaknya hanyalah berorientasi pada pangkat dan jabatan. Karena saya seorang fasilitator, maka banyak mendengar hal demikian dari peserta saya. Entah bagaimana dengan Anda; apakah Anda juga merasakan atau melihat hal serupa di sekeliling Anda?

Tentunya ini menjadi catatan penting bagi seorang pemimpin atau calon pemimpin. Terlepas apapun jabatan Anda saat ini, mau itu direktur, kepala divisi, pemilik perusahaan, manager, supervisor sekalipun, leadership bukan soal jabatan atau posisi. Orang tidak melihat apa yang tertera di kartu nama Anda, melainkan orang melihat apa yang Anda lakukan terhadap tim, pengaruh apa yang Anda berikan kepada tim, cara berpikir Anda sebagai seorang pemimpin.

It’s about mindset

Banyak orang jabatannya pemimpin tapi cara berpikirnya belum sebagai pemimpin. Saya teringat sebuah percakapan ringan yang terjadi beberapa tahun silam, seorang staf menanyakan kepada pimpinan departmen, “Apa yang dibutuhkan untuk menjadi manager, Pak?” Pemimpin departmen ini dengan lugasnya menjawab, “Berpikirlah layaknya manager mulai dari sekarang.” Belajar dari tokoh pemimpin besar bagaimana mereka berpikir dan bertindak. Semua pemimpin inspirasional tidak pernah membanggakan jabatannya, melainkan mereka bangga bisa melayani, bisa memiliki tim yang sukses, dan bisa bekerja sama denga tim yang hebat. Justru pemimpin yang belum matang, menomorsatukan pangkatnya di atas segala-galanya.

It’s about influence

John C Maxwell dengan tegas mengatakan bahwa, “Leadership is not about titles, positions or flowcharts. It is about one life influencing another.” Kepemimpinan bukan soal jabatan, posisi atau flowchart di organisasi Anda. Kepemimpinan adalah persoalan memengaruhi orang lain. Ketika orang merasa tergerak untuk berbuat sesuatu/berkontribusi positif karena kepemimpinan Anda maka sebetulnya Anda sudah memberikan pengaruh yang positif untuk orang tersebut. Pengaruh atau ancaman yang mau ditebar oleh pemimpin adalah pilihan. Bukan seberapa indah kata-kata yang pemimpin susun dalam setiap pengarahan, pidato atau meeting yang dilihat oleh tim, melainkan seberapa besar pengaruh positif yang mau disebar kepada timnya. Ingat, “People follow people, not position.” Orang mengikuti sosok pemimpinnya, bukan posisinya.

It’s about action

Jangan bicara ketepatan waktu kalau sebagai pemimpin belum menjadi contoh. Jangan bicara memberi pelayanan baik kepada pelanggan kalau sebagai pemimpin belum memberi contoh memberikan pelayanan yang baik pula kepada tim. Apapun tindakan/action yang dilakukan oleh pemimpin dijadikan acuan bagi pengikutnya untuk menghargai atau mencibir pemimpinnya.

Saya pernah mendengar seorang pemimpin yang cemas dan takut dibicarakan hal yang buruk di belakang oleh timnya. Kiat saya sederhana, jika seorang pemimpin mau tahu apa yang dibicarakan timnya di belakang, introspeksi perilaku dan tindakan yang dilakukan sehari-hari kepada mereka. Kalau Anda melakukan hal yang baik mungkin orang akan bercerita kepada 2-3 orang, tapi kalau Anda melakukan hal yang tidak baik, orang mungkin akan bercerita kepada 6-10 orang. Apa yang Anda katakan dan apa yang Anda jalankan haruslah sejalan. Mau jadi pemimpin seperti apakah Anda?

Oleh: Muk Kuang, Tim Andrie Wongso

Leave a Comment