Kurir Istimewa

Pusta Hery Kurnia - Kurir Istimewa

Hari ini saya dapat kiriman cerita motivasi dari aplikasi AW Multivitamin, aplikasi smartphone yang berisi kalimat dan cerita motivasi dari Motivator Nomor 1 Indonesia, Andrie Wongso. Ceritanya sangat menginspirasi. Saya sengaja share supaya semakin banyak rekan yang mendapat suntikan semangat dan inspirasi positif dari kisah ini.

Alkisah suatu hari Jumat di kantor, tampak sebagian karyawan tidak bersemangat seperti biasa, karena sudah dekatnya dengan libur akhir pekan. Hari itu, office boy kantor, tiba-tiba tidak masuk kerja. Padahal, ada sejumlah dokumen penting yang mendesak harus dikirim ke relasi di luar kota hari itu juga, yang biasanya dikerjakan oleh si office boy tersebut. Karena tidak bisa ditunda, maka diputuskan digunakanlah jasa kurir.

Tidak lama menunggu, seorang datang dari perusahaan jasa kurir yang ditugaskan untuk mengambil dokumen yang harus dikirimkan. Yang mengagetkan adalah sang kurir yang datang adalah seorang cacat. Ia tidak mempunyai kaki dan kedua penyangga tubuhnya buntung hingga batas dengkul. Untuk berjalan, ia menggunakan papan yang sekaligus digunakan untuk menaruh barang yang akan dikirimkan oleh pelanggan jasa kurir tempatnya bekerja. Papan itu diberi roda kecil sehingga ia bisa berjalan dengan mengayunkan tangan untuk menggerakkan roda papan.

Kontan, hal pertama yang muncul di benak kami yang menyaksikan hal itu adalah kasihan, sekaligus jengkel. Jengkel karena orang cacat kok dikirim untuk tugas seperti ini. Dan kasihan karena melihat si cacat harus bersusah payah berjuang untuk hidupnya. Tetapi rasa kasihan itu segera berubah menjadi rasa kagum dan hormat. Yakni, saat tawaran bantuan kami ditolak untuk mengambilkan dokumen ke lantai dua. Karena terbayang, betapa sulitnya dengan kedua kaki buntung. Bagaimana dia harus menaiki tangga yang cukup tinggi itu.

“Mas, tunggu di sini saja, biar saya yang mengambilkan dokumennya untuk mas… Kasihan kan, mas harus mengambil ke lantai dua,” sebut pegawai itu.

“Jangan pak. Biar saya sendiri yang mengambil ke atas. Sudah biasa kok. Jangan ngerepotin. Terimakasih atas kebaikannya,” jawab kurir itu.

“Nggak kok… nggak apa-apa. Nggak repot. Mas tunggu di sini aja, sebentar saya ambilkan ke atas…,” sergah si pegawai.

“Mas, bukan saya tidak mau dibantu,” dengan bibir tersentum dan tegas dia melanjutkan, “Tapi ini sudah tugas saya, dan sudah biasa kok. Lagipula, kalau setiap orang membantu saya, malah saya nanti jadi pemalas dan tidak bisa berbuat apa-apa karena terbiasa menggantungkan diri pada bantuan orang lain,” sebutnya lugu, tanpa bermaksud mengada-ada.

Segera ia memulai aksinya. Mengayunkan tangan dengan lincah, mendorong tubuhnya menaiki tangga satu persatu. Kami terkagum dan malu. Orang cacat itu telah memberi kami pelajaran yang sangat berharga. Meskipun cacat, dia tidak ingin dikasihani. Meski punya kekurangan, dia memiliki semangat juang yang luar biasa untuk bekerja dan mandiri. Kami yang bertubuh normal merasa malu. Lebih-lebih hari jumat menjelang libur seperti hari ini. Banyak alasan untuk bermalas-malasan. Sungguh tidak pantas!

Pembaca yang budiman, untuk kondisi dan hal-hal tertentu mungkin kita membutuhkan bantuan orang lain. Karena kehidupan di antara manusia adalah saling ketergantungan satu dengan yang lain. Namun, sangatlah tidak pantas, jika kita hidup dengan cara menunggu bantuan apalagi menggantungkan belas kasihan dari orang lain semata. Jati diri manusia ditandai dengan keberanian bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Maka, bagaimanapun kondisi kita, kita harus mampu belajar dan membangun sikap mental kemandirian. Agar keberadaan kita di dunia ini punyai nilai tersendiri. Berharga di mata Tuhan, diri sendiri, dan sesama.

Semoga bermanfaat. Selamat memiliki sikap yang tepat week end ini. Salam sukses!

Leave a Comment