Abdul Syukur, Tukang Becak Tua Penambal Jalan

Pusta Hery Kurnia - Abdul Syukur

Di tengah kehidupan masyarakat kota yang padat akan kesibukan dan cenderung individualis, ternyata masih ada orang yang begitu tinggi kepeduliannya terhadap lingkungan dan juga kepentingan orang lain. Adalah seorang tukang becak di Surabaya yang berhasil menarik perhatian kita semua, karena sosoknya yang sangat sederhana dan berhati mulia.

Abdul Syukur namanya. Bapak tua kelahiran tahun 1950 ini sedang hangat dibicarakan. Pak Tuwek atau Pak Dul, demikian panggilannya, bekerja sebagai tukang becak. Biasanya ia mangkal di depan ITC Surabaya. Pendapatannya  Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu saat ramai, namun jika sepi, sehari ia hanya mengantongi Rp 12 ribu. Bisa dikatakan, pendapatannya tidaklah seberapa. Tapi dia menjalani kesehariannya itu dengan penuh syukur dan keikhlasan.

Usia tua, tidak membuatnya rapuh. Kebiasaannya setelah menarik becak, pada pukul 21.00, dia menambal jalan berlubang yang menurutnya bisa mencelakakan orang. Hanya dengan berbekal palu ukuran sedang, Pak Dul memukuli batu-batu besar yang diangkutnya menjadi pecahan yang lebih kecil untuk menutupi lubang.

Pak Dul yang bekerja sebagai tukang becak sejak 1968 itu mengatakan, dirinya sering mendapatkan ucapan serta tanda terima kasih dari warga sekitar. Tapi, tidak jarang juga ada yang menganggapnya “gila”—karena menurut mereka, untuk apa mengerjakan sesuatu yang memakan waktu dan tenaga, namun tidak menghasilkan uang? Ya, Pak Dul mengerjakan itu semua tanpa disuruh, dan tanpa dibayar oleh siapapun. Motifnya sangat sederhana, Pak Dul mengatakan jika tidak mampu bersedekah dengan harta, dirinya ingin bersedekah dengan tenaga atau apa saja yang bisa dilakukannya. Sungguh alasan yang sangat mulia.

Pak Dul tidak pernah membayangkan, bahwa pekerjaan menambal jalan berlubang yang biasa dia lakukan dengan sepenuh hati dan tanpa mengharapkan pamrih dari siapapun akan menjadi sorotan. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini turut mengapresiasi tindakan mulia salah satu warganya ini, dengan mengundang Pak Dul untuk silaturahmi ke rumah dinasnya pada hari Kamis (14/5). Dalam kesempatan tersebut Bu Risma menawari memperbaiki tempat tinggal Pak Dul, serta menawari pekerjaan menjadi satgas di Dinas PU Surabaya. Namun Pak Dul menolak secara halus. Prinsipnya, tindakannya itu dilakukan dengan sukarela.

”Saya niatnya ya ikhlas. Tapi, kalau dikasih ya dianggap rezeki. Alhamdulillah,” ungkapnya.

Meski sudah diminta untuk berhenti melakukan kegiatannya menambal jalan yang berlubang, Pak Dul tetap bersikeras. Dia akan terus melakukannya karena itu adalah salah satu bentuk pengabdiannya sebagai warga Surabaya.

Cerita nyata dari sosok Pak Dul sungguh pantas dijadikan teladan. Dalam kesederhanaannya, dia tidak lupa untuk tetap peduli akan lingkungan dan kepentingan keselamatan orang lain. Dan yang lebih utamanya lagi, semua itu dia lakukan atas dasar ketulusan hati, dan tidak mengharap pamrih.

Luar Biasa!

Sumber: www.andriewongso.com

Leave a Comment