Sukses Berkat Kata-Kata Positif

Nama Demetrius Shealey, hampir tak ada yang tahu. Orang-orang lebih suka menyebutnya “Billionaire PA”. Motivator dan pengusaha muda ini cukup sensasional. Itu karena ia berhasil mengubah hidupnya yang berantakan menjadi tokoh muda yang digandrungi banyak orang.

Pusta Hery Kurnia - Demetrius Shealy

Shealey kecil, tinggal di daerah kelahirannya di Alabama, Amerika Serikat (AS). Lingkungannya terbilang tidak menguntungkan. Pergaulannya pun tak terjaga. Kehidupannya yang dipenuhi kenakalan remaja membuatnya harus berurusan dengan kepolisian.

Kehidupan yang menyengsarakan itu sebenarnya tidak ia kehendaki. Shealey bahkan menyadari bahwa jika terus-terusan hidup di lingkungan buruk seperti itu, masa depannya tak akan pernah menjadi lebih baik. “Saya bosan di lingkungan negatif itu. Saya percaya bahwa kita adalah gambaran dari pergaulan kita. Polisi akan bergaul dengan polisi, pemadam kebakaran bergaul dengan pemadam kebakaran, orang kaya bergaul dengan orang kaya, orang sejahtera bergaul dengan orang sejahtera, begitupun orang berantakan akan bergaul dengan orang berantakan juga. Saya putuskan untuk keluar dari lingkungan tersebut (ketika usianya menjelang 20 tahun) karena lelah,” katanya.

Untuk membangun hidup yang lebih baik ia pergi dari Alabama menuju Los Angeles, California, mencari pekerjaan. Untuk tidur di malam hari, ia gunakan mobilnya.

Sayangnya mencari pekerjaan di kota besar tidaklah mudah. Sudah puluhan orang ia temui untuk mempekerjakannya, sebanyak itu pula orang menolak. Latar belakangnya yang pernah berurusan dengan kepolisian membuat mereka tak berani mengangkatnya menjadi pekerja mereka. Situasi ini membuatnya frustrasi. Tetapi ia berusaha bertahan. Salah satu yang ia lakukan adalah selalu berpikiran positif. Setiap kali ditolak ia menasihati dirinya sendiri bahwa suatu saat kelak pekerjaan terbaik akan ia dapatkan. Tak hanya itu. “Ketika saya tiba di mobil saya, saya tempelkan  kalimat-kalimat inspirasional di langit-langit mobil saya. Ini supaya saya selalu dikelilingi hal-hal yang positif,” ujarnya. Ia menyebutnya “Dream Wall”.

Suatu kali, sepulang berburu lowongan kerja, ia pulang ke mobilnya. Entah bagaimana ketika itu ia merasa kecewa luar biasa.  Kisahnya, “Setelah wawancara ke-152 dan mereka bilang ‘No”, saya masuk ke mobil malam itu dan berteriak frustasi, ‘Saya tak akan mencari pekerjaan lagi, saya akan buat pekerjaan sendiri!’” Teriakan kekecewaan itu pada awalnya tak ia sadari benar-benar. Namun setengah jam kemudian ia menyadari bahwa mungkin itulah hal terbaik dalam hidupnya yang harus ia lakukan, yaitu membuat pekerjaan sendiri.

Keberuntungan mulai menghampiri. Esoknya, ia bertemu seseorang yang dulu dikenalnya. Orang tersebut investor real estate, yang dengan baik hati mempersilakan dirinya menumpang tidur di salah satu bagian rumahnya. “Berarti setelah 63 hari tinggal di dalam mobil, saya kembali bisa tidur di dalam rumah,” cerita Shealey.

Shealey pun mulai merancang “bisnis” yang bisa ia lakukan. Yang paling mudah adalah menjual T-shirt. Ia mendapatkan ide dari pengalaman dirinya memotivasi diri sendiri dengan kalimat-kalimat positif. T-shirt itu harus memuat tulisan yang motivasional. Awalnya ia mencetak beberapa T-shirt dengan tulisan “Damn a Recession, I’m in a Succession!”—kalimat yang menggambarkan bahwa tak peduli keadaan resesi, seseorang bisa saja sukses. T-shirt itu ia jajakan di sebuah perempatan kota Los Angeles. Ternyata laku. Hari-hari berikutnya ia kembali menjual T-shirt sejenis dan terus laku.

Untuk mengoptimalkan jualannya, ia membuat website. Ia juga menambah variasi kalimat yang dicetaknya pada T-shirt yaitu “God’s on my team; who’s on yours?” Yang luar biasa, hanya dalam tempo tiga bulan, ia bisa menjual 5 ribu T-shirt ke berbagai pembeli di seluruh dunia. Ini membuktikan bahwa kalimat-kalimat motivasional itu disukai banyak orang.

Motivator

Sukses di bisnis kaus, ia kemudian mencoba memproduksi aneka produk dengan basis kalimat-kalimat motivasional. Ratusan kalimat motivasional yang dulu ia tempelkan di atap mobilnya pun ia buatkan buku berjudul My Mind is Wealthy, dan laku keras. Ia juga menciptakan lagu, membuat film, dan menjadi pembicara di berbagai tempat. Ia mendorong anak-anak yang kurang mampu agar bisa bangkit dan membuat suksesnya sendiri.

“Saya senang menjalankan ini. Saya mendorong orang-orang di sekitar saya untuk menciptakan suksesnya masing-masing sehingga kelak saya bisa dikelilingi 10, 15, 20 miliarder yang pernah saya bantu,” paparnya.

Kini, Shealey punya brand sendiri. Ia ubah namanya menjadi Billionaire PA untuk menginspirasi orang menjadi miliarder (billionaire).  Ia juga memberi nama perusahaannya, “Wealthy Minds”, karena ingin menginspirasi orang untuk berjuang mewujudkan mimpinya.

Luar biasa!

Source: www.andriewongso.com

Leave a Comment